Pelayanan

Hari Kesepuluh, 14 Maret 2020

Hari Kesepuluh, 14 Maret 2020
Renungan ini bertujuan untuk menguatkan iman kita di tengah situasi waspada Virus Corona (Covid-19).
1. Pergunakanlah ini sebagai renungan bersama keluarga atau renungkan secara pribadi bila Anda sedang jauh dari keluarga.
2. Berdoalah agar Tuhan menguatkan iman kita dan agar situasi ini dapat segera teratasi.

Abide with Me(Tinggal Sertaku)
Salam dalam kasih Kristus,
Jemaat yang saya kasihi, ini adalah tulisan terakhir saya dalam 10 hari mendampingi Anda dengan renungan Firman Tuhan untuk menghadapi situasi waspada Covid-19. Sejak semula saya memang ingin mengakhiri rangkaian renungan ini dengan judul “Abide with Me”, Tinggal Sertaku. Suatu judul yang saya ambil dari lagu hymne terkenal karangan Pdt. Henry Francis Lyte (1793-1847). Lagu ini sendiri diperkirakan dikarang pada 1847, namun tetap menjadi lagu yang sering dinyanyikan di gereja sampai hari ini.
Walaupun berirama lambat dan mendayu, lagu ini juga popular di luar gereja. Lagu ini digemari oleh alm. Mahatma Gandhi; dinyanyikan sebagai lagu rutin setiap tahun dalam upacara militer di beberapa negara; bahkan sejak 1927 lagu ini rutin dinyanyikan sebelum memulai pertandingan sepak bola Liga Inggris, yaitu 15 menit sebelum tendangan pertama Final Piala FA! Lagu ini juga digunakan dalam beberapa film sekuler modern. Mungkin banyak di antara kita yang pernah melihat film Titanic dan sepakat bahwa momen paling berkesan adalah ketika kapal Titanic mulai tenggelam dan penumpang panik seorang pendeta yang kesehatannya rapuh. Hampir sepanjang hidupnya Pdt Henry F. Lyte sakit-sakitan. Dia menderita TBC. Suatu hari di tahun 1920 Henry mengunjungi sahabatnya, William Augustus Le Hunte, yang sedang sekarat. Di dalam keadaan sekarat, William hanya membisikan doa “abide with me, . . . abide with me” (tinggal sertaku . . .tinggal sertaku). Lalu, William pun meninggal dunia. Kalimat doa yang sederhana itu kemudian membekas dalam pikiran Henry.
Dua puluh tujuh tahun kemudian, saat penyakit TBC-nya semakin parah, Henry teringat pada doa Wlliam, “Abide with me . . .”. Kalimat singkat itu mengingatkan Henry pada permintaan 2 orang murid dalam perjalanan bersama Tuhan Yesus ke Emaus. Waktu itu Tuhan Yesus baru bangkit dari kubur, dan para murid merasa sendiri karena Tuhan Yesus tidak lagi bersama mereka. Dalam kesepian dan kesedihannya mereka sampai tidak sadar bahwa orang yang ditemui di perjalanan dan berjalan dengan mereka adalah Tuhan Yesus. Saat mereka tiba di tujuan, mereka mengundang teman perjalanan itu untuk tinggal bersama karena hari sudah malam, "Tinggallah bersama-sama dengan kami” (Lukas 24:29).
Kesedihan, kekuatiran, dan ketakutan kadang membuat kita tidak menyadari kehadiran Tuhan. Tetapi sadarilah bahwa Dia adalah Imanuel, Allah yang selalu beserta dengan umat-Nya. Henry kemudian menuliskan respon imannya atas Firman Tuhan tersebut dalam sebuah puisi dan lagu. Bait pertama dari lagu itu dalam bahasa aslinya adalah :
Abide with me; fast falls the eventide; The darkness deepens; Lord with me abide. When other helpers fail and comforts flee, Help of the helpless, O abide with me.
Dari 8 bait yang dibuat Henry, KPPK memakai 4 bait saja yang diterjemahkan sebagai berikut
Tinggal Sertaku (KPPK 406)
1. Tinggal sertaku, hari t'lah senja,
g'lap makin turun, Tuhan tinggallah!
Yang mau tolongku, tiada kutemu,
Maha Penolong tinggal sertaku.
2. Hidupku surut, ajal mendekat,
nikmat duniawi, hanyut melenyap.
Tiada yang tahan, tiada yang teguh?
Kau yang abadi tinggal sertaku.
3. Aku perlukan, Dikau tiap waktu,
dalam cobaan, Kau yang kupegang.
Siapa penuntun, yang setara-Mu?
Siang dan malam tinggal sertaku.
4. Aku tak takut, jika Kau dekat,
susah tak pahit, duka tak berat.
Kubur dan maut, mana jayamu?
Tuhan yang bangkit tinggal sertaku.
Lagu ini menjadi lagu kemenangan iman Henry F. Lyte di tengah TBC yang dideritanya. “Kawan Perjalanan”, Sang Imanuel, adalah sahabat yang setia menuntun, bahkan sampai ke hidup yang kekal. Tidak ada penolong seperti Dia. Kesulitan, penyakit, atau apapun juga tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Firman Tuhan dalam Roma 8 berkata:
35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,
39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Tepat sekali sutradara film Titanic menggunakan lagu ini untuk menggambarkan keteguhan iman Kristen. Kalaupun kapal kita tenggelam, percayalah bahwa kita tidak akan pernah terpisah dari Juruselamat kita, Kristus Yesus. Kawan Perjalanan yang Kudus itu tidak pernah meninggalkan saudara dan saya. Tetaplah bersandar pada-Nya dalam situasi apapun.
Saya terus berdoa agar kita semua selalu dalam perlindungan dan berkat Tuhan. Mari terus berdoa agar wabah Covid-19 ini dapat segera berhenti. Jaga kesehatan pribadi, jaga kesehatan bersama, dan terus teguh dalam iman. Tuhan memberkati.
Jakarta, 14 Maret 2020
Pdt. Petroes St. Soeryo
Gembala GKY Kebayoran Baru
Jadwal Ibadah dan Persekutuan
Keb. Umum I: Minggu, 07.30 Wib
Keb. Umum II: Minggu, 10.00 Wib

Pers. Doa Selasa: 10.00 Wib
Pers. Doa Rabu: 19.00 Wib
Pers. Doa Sabtu: 07.00 Wib

Sekolah Minggu: Minggu, 10.00 Wib
Komisi Remaja: Minggu, 10.00 Wib
Komisi Pemuda: Sabtu, 17.00 Wib
Komisi Wanita: Jumat, 10.00 Wib
Pers. Adelphos (Pria):
Kamis ke-4, Bulan ganjil 19.00 Wib

Pers. Kaleb (Usia Indah):
Kamis ke-1 & 3, 10.00 Wib

Pers. Pasutri (Pasangan Suami Istri):
Sabtu ke-2, 16.00 Wib
GKY Kebayoran Baru
Jl. Kebayoran Baru No. 79
Jakarta Selatan, 12120

Telp: (021) 7279-2735
Fax: (021) 7279-3017
Email: gkykb@yahoo.com
Warta: lihat warta
Silahkan Hubungi Kami
Name
Phone
Email
Subject
Message
Captcha
Website Design & Development by